Cari Ilmu Yuuck...

Memuat...

Selasa, 23 Maret 2010

WALI SONGO - MISTERI ISLAMISASI JAWA

Berikut Isi Tulisan Dari Prof. Hasanu Simon :

I

Sebelum saya sampaikan tanggapan dan komentar saya terhadap buku
berjudul "Syekh Siti Jenar, Ajaran dan Jalan Kematian", karya Dr Abdul
Munir Mulkhan, saya sampaikan dulu mengapa saya bersedia ikut menjadi
pembahas buku tersebut. Tentu saja saya mengucapkan terima kasih
kepada panitia atas kepercayaan yang diberikan kepada saya di dalam
acara launching buku yang katanya sangat laris ini.

Saya masuk Fakultas Kehutanan UGM tahun 1965, memilih Jurusan
Manajemen Hutan. Sebelum lulus saya diangkat menjadi asisten, setelah
lulus mengajar Perencanaan dan Pengelolaan Hutan. Pada waktu ada
Kongres Kehutanan Dunia VIII di Jakarta tahun 1978, orientasi sistem
pengetolaan hutan mengalami perubahan secara fundamental. Kehutanan
tidak lagi hanya dirancang berdasarkan ilmu teknik kehutanan
konvensional, melainkan harus melibatkan ilmu sosial ekonomi
masyarakat. Sebagai dosen di bidang itu saya lalu banyak mempelajari
hubungan hutan dengan masyarakat mulai jaman kuno dulu. Di situ saya
banyak berkenalan dengan sosiologi dan antropologi. Khusus dalam
mempelajari sejarah hutan di Jawa, banyak masalah sosiologi dan
antropologi yang amat menarik.

Kehutanan di Jawa telah menyajikan sejarah yang amat panjang dan
menarik untuk menjadi acuan pengembangan strategi kehutanan sosial
(social forestry strategy) yang sekarang sedang dan masih dicari oleh
para ilmuwan. Belajar sejarah kehutanan Jawa tidak dapat melepaskan
diri dengan sejarah bangsa Belanda. Dalam mempelajari sejarah Belanda
itu, penulis sangat tertarik dengan kisah dibawanya buku-buku dan
Sunan Mbonang di Tuban ke negeri Belanda. Peristiwa itu sudah terjadi
hanya dua tahun setelah bangsa Belanda mendarat di Banten. Sampai
sekarang buku tersebut masih tersimpan rapi di Leiden, diberi nama
"Het Book van Mbonang", yang menjadi sumber acuan bagi para peneliti
sosiologi dan antropologi.

Buku serupa tidak dijumpai sama sekali di Indonesia. Kolektor buku
serupa juga tidak dijumpai yang berkebangsaan Indonesia. Jadi
seandainya tidak ada "Het Book van Mbonang", kita tidak mengenal sama
sekali sejarah abad ke-16 yang dilandasi dengan data obyektif
Kenyataan sampai kita tidak memiliki data obyektif tentang Sunan
Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijogo, dan juga tentang Syekh Siti Jenar.
Oleh karena itu yang berkembang lalu kisah-kisah mistik bercampur
takhayul, termasuk misteri Syekh Siti Jenar yang hari ini akan kita
bicarakan. Kisah Walisongo yang penuh dengan mistik dan takhayul itu
amat ironis, karena kisah tentang awal perkembangan Islam di
Indonesia, sebuah agama yang sangat keras anti kemusyrikan.

Pembawa risalah Islam, Muhammad SAW yang lahir 9 abad sebelum era
Wallsongo tidak mengenal mistik. Beliau terluka ketika berdakwah di
Tho'if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang Uhud.
Tidak seperti kisah Sunan Giri, yang ketika diserang pasukan Majapahit
hanya melawan tentara yang jumlahnya lebih banyak itu dengan
melemparkan sebuah bollpoint ke pasukan Majapahit. Begitu dilemparkan
bollpoint tersebut segera berubah menjadi keris sakti, lalu
berputar-putar menyerang pasukan Majapahit dan bubar serta kalahlah
mereka. Keris itu kemudian diberi nama Keris Kolomunyeng, yang oleh
Kyai Langitan diberikan kepada Presiden Gus Dur beberapa bulan lalu
yang antara lain untuk menghadapi Sidang Istimewa MPR yang sekarang
sedang digelar, dan temyata tidak ampuh.

Kisah Sunan Kalijogo yang paling terkenal adalah kemampuannya untuk
membuat tiang masjid dari tatal dan sebagai penjual rumput di Semarang
yang diambil dari Gunung Jabalkat. Kisah Sunan Ampel lebih hebat lagi;
salah seorang pembantunya mampu melihat Masjidil Haram dari Surabaya
untuk menentukan arah kiblat. Pembuat ceritera ini jelas belum tahu
kalau bumi berbentuk bulat sehingga permukaan bumi ini melengkung.
Oleh karena itu tidak mungkin dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya.

Islam juga mengajarkan bahwa Nabi lbrahim AS, yang hidup sekitar 45
abad sebelum era Walisongo, yang lahir dari keluarga pembuat dan
penyembah berhala, sepanjang hidupnya berdakwah untuk anti berhala .
Ini menunjukakan bahwa kisah para wali di Jawa sangat ketinggalan
jaman dibanding dengan kisah yang dialami oleh orang-orang yang
menjadi panutannya, pada hal selisih waktu hidup mereka sangat jauh.
"Het Book van Mbonang" yang telah melahirkan dua orang doktor dan
belasan master bangsa Belanda itu memberi petunjuk kepada saya,
pentingnya menulis sejarah berdasarkan fakta yang obyektif "Het Book
van Bonang" tidak menghasilkan kisah Keris Kolomunyeng, kisah cagak
dan tatal, kisah orang berubah menjadi cacing, dan sebagainya.

Itulah ketertarikan saya dengan Syekh Siti Jenar sebagai bagian dari
sejarah Islam di Indonesia. Saya tertarik untuk ikut menulis tentang
Syekh Siti Jenar dan Walisongo. Tulisan saya belum selesai, tapi niat
saya untuk terlibat adalah untuk membersihkan sejarah Islam di Jawa
ini dari takhayul, mistik, khurofat dan kemusyrikan. Itulah sebabnya
saya terima tawaran panitia untuk ikut membahas buku Syekh Siti Jenar
karya Dr Abdul Munir Mulkhan ini. Saya ingin ikut mengajak masyarakat
untuk segera meninggalkan dunia mitos dan memasuki dunia ilmu.

Dunia mitos tidak saja bertentangan dengan akidah Islamiyah, tetapi
juga sudah ketinggalan jaman ditinjau dari aspek perkembangan ilmu
pengetahuan. Secara umum dunia mitos telah ditinggalkan akhir abad
ke-19 yang lalu, atau setidak-tidaknya awal abad ke-20. Apakah kita
justru ingin kembali ke belakang? Kalau kita masih berkutat dengan
dunia mitos, masyarakat kita juga hanya akan menghasilkan pemimpin
mitos yang selalu membingungkan dan tidak menghasilkan sesuatu.


II

Siapa Syekh Siti Jenar ? Kalau seseorang menulis buku, tentu para
pembaca berusaha untuk mengenal jatidiri penulis tersebut, mininal
bidang keilmuannya. Oleh karena itu isi buku dapat dijadikan tolok
ukur tentang kadar keilmuan dan identitas penulisnya. Kalau ternyata
buku itu berwama kuning, penulisnya juga berwama kuning. Sedikit
sekali terjadi seorang yang berfaham atheis dapat menulis buku yang
bersifat relijius karena dua hal itu sangat bertentangan. Seorang
sarjana pertanian dapat saja menulis buku tentang sosiologi, karena
antara pertanian dan sosiologi sering bersinggungan. Jadi tidak
mustahil kalau Isi sebuah buku tentu telah digambarkan secara singkat
oleh judulnya. Buku tentang Bertemak Kambing Ettawa menerangkan
seluk-beluk binatang tersebut, manfaatnya, jenis pakan, dan sebagainya
yang mempunyai kaitan erat dengan kambing Ettawa.

Judul buku karya Dr Abdul Munir Mulkhan ini adalah: "Ajaran dan Jalan
Kematian Syekh Siti Jenar. Pembaca tentu sudah membayangkan akan
memperoleh informasi tentang kedua hal itu, yaitu ajaran Syekh Siti
Jenar dan bagaiamana dia mati. Penulis buku juga setia dengan
ketentuan seperti itu.

Bertitik-tolak dari ketentuan umum itu, paragraf 3 sampai dengan 6 Bab
Satu tidak relevan. Bab Satu diberi judul: Melongok Jalan Sufi:
Humanisasi Islam Bagi Semua. Mungkin penulis ingin mengaktualisasikan
ajaran Syekh Siti Jenar dengan situasi kini, tetapi apa yang ditulis
tidak mengena sama sekali. Bahkan di dalam paragraf 3-6 itu banyak
pemyataan (statements) yang mencengangkan saya sebagai seorang muslim.

Pernyataan di dalam sebuah tulisan, termasuk buku, dapat berasal dari
diri sendiri atau dari orang lain. Pemyataan orang lain mesti
disebutkan sumbernya; oleh karena itu peryataan yang tidak ada
sumbemya dianggap oleh pembaca sebagai pernyataan dari penulis.
Peryataan orang lain dapat berbeda dengan sikap, watak dan pendapat
penulis, tetapi pernyataan penulis jelas menentukan sikap, watak dan
pendapatnya. Pernyataan-pernyataan di dalam sebuah buku tidak lepas
satu dengan yang lain. Rangkaiannya, sistematika penyajiannya,
merupakan sebuah bangunan yang menentukan kadar ilmu dan kualitas buku
tersebut. Rangkaian dan sistematika pernyataan musti disusun menurut
logika keilmuan yang dapat diterima dan dibenarkan oleh masyarakat ilmu.

Untuk mengenal atau menguraikan ajaran Syekh Siti Jenar, adalah logis
kalau didahului dengan uraian tentang asal-usul yang empunya ajaran.
Ini juga dilakukan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan (Paragraf I Bab Satu,
halaman 3-10). Di dalam paragraf tersebut diterangkan asal-usul Syekh
Siti Jenar tidak jelas. Seperti telah diterangkan, karena tidak ada
sumber obyektif maka kisah asal-usul ini juga penuh dengan
versi-versi. Di halaman 3, dengan mengutip penelitian Dalhar Shofiq
untuk skripsi S-1 Fakultas Filsafat UGM, diterangkan bahwa Syekh Siti
Jenar adalah putera seorang raja pendeta dari Cirebon bemama Resi
bungsu. Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Hasan Ali alias Abdul Jalil.

Kalau seseorang menulis buku, apalagi ada hubungannya dengan hasil
penelitian, pembahasan secara ilmiah dengan menyandarkan pada logika
amat penting. Tidak semua berita dikutip begitu saja tanpa analisis.
Di dalam uraian tentang asal-usul Syekh Siti Jenar di halaman 3-10 ini
jelas sekali penuh dengan kejanggalan, tanpa secuil analisis pun untuk
memvalidasi berita tersebut. Kejanggalan-kejanggalan itu adalah:

1 . Ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang raja pendeta benama Resi
Bungsu. Istilah raja pendeta ini kan tidak jelas. Apakah dia seorang
raja, atau pendeta. Jadi beritanya saja sudah tidak jelas sehingga
meragukan.

2. Di halaman 62, dengan mengutip sumber Serat Syekh Siti Jenar,
diterangkan bahwa ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang elite agama
Hindu-Budha. Agama yang disebutkan ini juga tidak jelas. Agama Hindu
tidak sama dengan agama Budha. Setelah Islam muncul menjadi agama
mayoritas penduduk pulau Jawa, persepsi umum masyarakat memang
mengangap agama Hindu dan Budha sama. Pada hal ajaran kedua agama itu
sangat berbeda, dan antara keduanya pernah terjadi perseteruan akut
selama berabad-abad. Runtuhnya Mataram Hindu pada abad ke-10
disebabkan oleh perseteruan akut tersebut. Runtuhnya Mataram Hindu
berakibat sangat fatal bagi perkembangan Indonesia. Setelah itu
kerajaan-kerajaan Jawa terus menerus terlibat dengan pertikaian yang
membuat kemunduran. Kemajuan teknologi bangsa Jawa yang pada abad
ke-10 sudah di atas Eropa, pada abad ke-20 ini jauh di bawahnya. Tidak
hanya itu, bahkan selama beberapa abad Indonesia (termasuk Jawa) ada
di bawah bayang-bayang bangsa Eropa.

3. Kalau ayah Syekh Siti Jenar beragama Hindu atau Budha, mengapa
anaknya diberi nama Arab, Hasan Ali alias Abdul Jalil. Apalagi seorang
"raja pendeta" yang hidup di era pergeseran mayoritas agama rakyat
menuju agama Islam, tentu hal itu janggal terjadi.

4. Atas kesalahan yang dilakukan anaknya, sang ayah menyihir sang anak
menjadi seekor cacing lalu dibuang ke sungai. Di sini tidak disebut
apa kesalahan tersebut, sehinga sang ayah sampai tega menyihir anaknya
menjadi cacing. Masuk akalkah seorang ayah yang "raja pendeta"
menyihir anaknya menjadi cacing. Ilmu apakah yang dimiliki "raja
pendeta" Resi Bungsu untuk merubah seseorang menjadi cacing? Kalau
begitu, mengapa Resi Bungsu tidak menyihir para penyebar Islam yang
pada waktu itu mendepak pengaruh dan ketenteraman batinnya? Ceritera
seseorang mampu merubah orang menjadi binatang ceritera kuno yang
mungkin tidak pemah ada orang yang melihat buktinya. Ini hanya terjadi
di dunia pewayangan yang latar belakang agamanya Hindu (Mahabarata)
dan Budha (Ramayana).

5. Cacing Hasan Ali yang dibuang di sungai di Cirebon tersebut, suatu
ketika terbawa pada tanah yang digunakan untuk menembel perahu Sunan
Mbonang yang bocor. Sunan Mbonang berada di atas perahu sedang
mengajar ilmu gaib kepada Sunan Kalijogo. Betapa luar biasa
kejanggalan pada kalimat tersebut. Sunan Mbonang tinggal di Tuban,
sedang cacing Syekh Siti Jenar dibuang di sungai daerah Cirebon. Di
tempat lain dikatakan bahwa Sunan Mbonang mengajar Sunan Kalijogo di
perahu yang sedang terapung di sebuah rawa. Adakah orang menembel
perahu bocor dengan tanah? Kalau toh menggunakan tanah, tentu dipilih
dan disortir tanah tersebut, termasuk tidak boleh katutan (membawa)
cacing.

6. Masih di halaman 4 diterangkan, suatu saat Hasan Ali dilarang Sunan
Giri mengikuti pelajaran ilmu gaib kepada para muridnya. Tidak pemah
diterangkan, bagaimana hubungan Hasan Ali dengan Sunan Giri yang
tinggal di dekat Gresik. Karena tidak boleh, Hasan Ali lalu merubah
dirinya menjadi seekor burung sehingga berhasil mendengarkan kuliah
Sunan Giri tadi dan memperoleh ilmu gaib. Setelah itu Hasan Ali lalu
mendirikan perguruan yang ajarannya dianggap sesat oleh para wali.
Untuk apa Hasan Ali belajar ilmu gaib dari Sunan Giri, pada hal dia
sudah mampu merubah dirinya menjadi seekor burung.

Al hasil, seperti dikatakan oleh Dr Abdul Munis Mulkhan sendiri dan
banyak penulis yang lain, asal-usul Syekh Siti Jenar memang tidak
jelas. Karena itu banyak pula orang yang meragukan, sebenarnya Syekh
Siti Jenar itu pernah ada atau tidak . Pertanyaan ini akan saya jawab
di belakang. Keraguan tersebut juga berkaitan dengan, di samping
tempat lahimya, di mana sebenamya tempat tinggal Syekh Siti Jenar.
Banyak penulis selalu menerangkan bahwa nama lain Syekh Siti Jenar
adalah: Sitibrit, Lemahbang, Lemah Abang. Kebiasaan waktu, nama sering
dikaitkan dengan tempat tinggal. Di mana letak Siti Jenar atau Lemah
Abang itu sampai sekarang tidak pemah jelas; padahal tokoh terkenal
yang hidup pada jaman itu semuanya diketahui tempat tinggalnya. Syekh
Siti Jenar tidak meninggalkan satupun petilasan.

Karena keraguan dan ketidak-jelasan itu, saya setuju dengan pendapat
bahwa Syekh Siti Jenar memang tidak pemah ada. Lalu apa sebenarnya
Syekh Siti Jenar itu? Sekali lagi pertanyaan ini akan saya jawab di
belakang nanti. Kalau Syekh Siti Jenar tidak pernah ada, mengapa kita
ber-tele-tele membicarakan ajarannya. Untuk apa kita berdiskusi
tentang sesuatu yang tidak pemah ada. Apalagi diskusi itu dalam rangka
memperbandingkan dengan Al Qur'an dan Hadits yang amat jelas
asal-usulnya, mulia kandungannya, jauh ke depan jangkauannya, tinggi
muatan ipteknya, sakral dan dihormati oleh masyarakat dunia.

Sebaliknya, Syekh Siti Jenar hanya menjadi pembicaraan sangat terbatas
di kalangan orang Jawa. Tetapi karena begitu sinis dan menusuk
perasaan orang Islam yang telah kaffah bertauhid, maka mau tidak mau
lalu sebagian orang Islam harus melayaninya. Oleh karena itu sebagai
orang Islam yang tidak lagi ragu terhadap kebenaran Al Qur'an dan
kerosulan Muhammad Saw, saya akan berkali-kali mengajak
saudara-saudaraku orang Islam untuk berhati-hati dan jangan terlalu
banyak membuang waktu untuk mendiskusikan ceritera fiktif yang
berusaha untuk merusak akidah Islamiyah ini.


III

Sunan Kalijogo

Semua orang di Indonesia, apalagi orang Islam, kenal dengan nama Sunan
Kalijogo yang kecilnya bernama Raden Mas Said ini. Dikatakan dia
adalah putera Adipati Tuban Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur Yang
beragama Islam.

Silsilah Raden Sahur ke atas adalah putera Ario Tejo III (Islam),
putera Ario Tejo II, putera Ario Tejo II (Hindu), putera Ario Tejo I,
putera Ronggolawe, putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja, putera
Adipati Ponorogo. Itulah asal usul Sunan Kalijogo yang banyak ditulis
dan diyakini orang, yang sebenamya merupakan versi Jawa. Dua versi
lainnya tidak pernah ditulis atau atau tidak dijumpai dalam media
cetak sehingga tidak diketahui masyarakat luas (Imron Abu Ammar, 1992).

Di depan telah saya singgung bahwa kisah Sunan Kalijogo versi Jawa ini
penuh dengan ceritera mistik. Sumber yang orisinil tentang kisah
tersebut tidak tersedia. Ricklefs, sejarawan Inggris yang banyak
meneliti sejarah Jawa, menyebutkan bahwa sebelum ada catatan bangsa
Belanda memang tidak tersedia data yang dapat dipercaya tentang
sejarah Jawa. Sejarah Jawa banyak bersumber dari cerita rakyat yang
versinya banyak sekali. Mungkin cerita rakyat itu bersumber dari
catatan atau cerita orang-orang yang pernah menjabat sebagai Juru
Pamekas, lalu sedikit demi sedikit mengalami distorsi setelah melewati
para pengagum atau penentangnya.

Namun demikian sebenarnya Sunan Kalijogo meninggalkan dua buah karya
tulis, yang satu sudah lama beredar sehingga dikenal luas oleh
masyarakat, yaitu Serat Dewo Ruci, sedang yang satu lagi belum dikenal
luas, yaitu Suluk Linglung. Serat Dewo Ruci telah terkenal sebagai
salah satu lakon wayang. Saya pertama kali melihat wayang dengan lakon
Dewo Ruci pada waktu saya masih duduk di kelas 5 SR, di desa kalahiran
ibu saya Pelempayung (Madiun) yang dimainkan oleh Ki dalang Marijan.
Sunan Kalijogo sendiri sudah sering menggelar lakon yang sebenarnya
merupakan kisah hidup yang diangan-angkan sendiri, setelah kurang puas
dengan jawaban Sunan Mbonang atas pertanyaan yang diajukan. Sampai
sekarang Serat Dewo Ruci merupakan kitab suci para penganut Kejawen,
yang sebagian besar merupakan pengagum ajaran Syekh Siti Jenar yang
fiktif tadi.

Kalau Serat Dewo Ruci diperbandingkan dengan Suluk Linglung, mungkin
para penganut Serat Dewo Ruci akan kecelek. Mengapa demikian? Isi
Suluk Linglung temyata hampir sama dengan isi Serat Dewo Ruci, dengan
perbedaan sedikit namun fundamental. Di dalam Suluk Linglung Sunan
Kalijogo telah menyinggung pentingnya orang untuk melakukan sholat dan
puasa, sedang hal itu tidak ada sama sekali di dalam Serat Dewo Ruci.
Kalau Serat Dewo Ruci telah lama beredar, Suluk Linglung baru mulai
dikenal akhir-akhir ini saja. Naskah Suluk Linglung disimpan dalam
bungkusan rapi oleh keturunan Sunan Kalijogo. Seorang pegawai
Departemen Agama Kudus, Drs Chafid mendapat petunjuk untuk mencari
buku tersebut, dan ternyata disimpan oleh Ny Mursidi, keturunan Sunan
Kalijogo ke-14. Buku tersebut ditulis di atas kulit kambing, oleh
tangan Sunan Kalijogo sendin' menggunakan huruf Arab pegon berbahasa
Jawa. Tahun 1992 buku diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Saat ini saya sedang membahas kedua buku itu, dan untuk sementara saya
sangat bergembira karena menurut kesimpulan saya, menjelang wafat
ternyata Sunan Kalijogo menjadi kaffah mengimani Islam. Sebelumnya
Sunan Kalijogo tidak setia menjalankan syariat Islam, sehingga orang
Jawa hanya meyakini bahwa yang dilakukan oleh Sunan terkenal ini bukan
sholat lima waktu melain sholat da'im. Menurut Ustadz Mustafa Ismail
LC, da'im berarti terus-menerus. Jadi Sunan Kalijogo tidak sholat lima
waktu melainkan sholat da'im dengan membaca Laa illaha ilalloh kapan
saja dan di mana saja tanpa harus wudhu dan rukuk-sujud. Atas dasar
itu untuk sementara saya membuat hipotesis bahwa Syekh Jenar sebenamya
adalah Sunan Kalijogo. Hipotesis inilah yang akan saya tulis dan
sekaligus saya gunakan untuk mengajak kaum muslimin Indonesia untuk
tidak bertele-tele menyesatkan diri dalam ajaran Syekh Siti Jenar.
Sayang, waktu saya masih banyak terampas untuk menyelesaikan buku-buku
saya tentang kehutanan sehingga upaya saya untuk mengkaji dua buku
tersebut tidak dapat berjalan lancar. Atas dasar itu pula saya
menganggap bahwa diskusi tentang Syekh Siti Jenar, seperti yang
dilakukan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan ini, menjadi tidak mempunyai
landasan yang kuat kalau tidak mengacu kedua buku karya Sunan Kalijogo
tersebut.

Sebagai tambahan, pada waktu Sunan Kalijogo masih berjatidiri seperti
tertulis di dalam Serat Dewo Ruci, murid-murid kinasih-nya berfaham
manunggaling kawulo Gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Pemanahan,
Sunan Pandanaran, dan sebagainya), sedang setelah kaffah murid dengan
tauhid murni, yaitu Joko Katong yang ditugaskan untuk mengislamkan
Ponorogo. Joko Katong sendiri menurunkan tokoh-tokoh Islam daerah
tersebut yang pengaruhnya amat luas sampai sekarang, termasuk Kyai
Kasan Bestari (guru R Ng Ronggowarsito), Kyai Zarkasi (pendiri PS
Gontor), dan mantan Presiden BJ Habibie termasuk Ny Ainun Habibie.

IV

Walisongo

Sekali lagi kisah Walisongo penuh dengan cerita-cerita yang sarat
dengan mistik. Namun Widji Saksono dalam bukunya "Mengislamkan Tanah
Jawa" telah menyajikan analisis yang memenuhi syarat keilmuan. Widji
Saksono tidak terlarut dalam cerita mistik itu, memberi bahasan yang
memadai tentang hal-hal yang tidak masuk akal atau yang bertentangan
dengan akidah Islamiyah.

Widji Saksono cukup menonjolkan apa yang dialami oleh Raden Rachmat
dengan dua temannya ketika dijamu oleh Prabu Brawidjaja dengan tarian
oleh penan putri yang tidak menutup aurat. Melihat itu Raden Rachmat
selalu komat-kamit, tansah ta'awudz. Yang dimaksudkan pemuda tampan
terus istighfar melihat putri-putri cantik menari dengan sebagian
auratnya terbuka. Namun para pengagum Walisongo akan "kecelek" (merasa
tertipu, red) kalau membaca tulisan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid.

Kedua penulis menemukan sebuah naskah yang mengambil informasi dari
sumber orisinil yang tersimpan di musium Istana Istambul, Turki.
Menurut sumber tersebut, temyata organisasi Walisongo dibentuk oleh
Sultan Muhammad I. Berdasarkan laporan para saudagar Gujarat itu,
Sultan Muhammad I lalu ingin mengirim tim yang beranggotakan sembilan
orang, yang memiliki kemampuan di berbagai bidang, tidak hanya bidang
ilmu agama saja. Untuk itu Sultan Muhammad I mengirim surat kepada
pembesar di Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya minta dikirim
beberapa ulama yang mempunyai karomah.

Berdasarkan perintah Sultan Muhammad I itu lalu dibentuk fim
beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa pada tahun
1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan
ahli mengatur negara dari Turki. Berita ini tertulis di dalam kitab
Kanzul 'Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh
Syekh Maulana Al Maghribi. Secara lengkap, nama, asal dan keahlian 9
orang tersebut adalah sebagai berikut:

1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro'il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang
dihuni jin jahat (??).

Dengan informasi baru itu terjungkir-baliklah sejarah Wallsongo versi
Jawa. Ternyata memang sejarah Walisongo versi non-Jawa, seperti telah
disebutkan di muka, tidak pemah diekspos, entah oleh Belanda atau oleh
siapa, agar orang Jawa, termasuk yang memeluk agama Islam, selamanya
terus dan semakin tersesat dari kenyataan yang sebenamya. Dengan
informasi baru itu menjadi jelaslah apa sebenamya Walisongo itu.
Walisongo adalah gerakan berdakwah untuk menyebarkan Islam. Oleh
karena gerakan ini mendapat perlawanan dengan gerakan yang lain,
termasuk gerakan Syekh Siti Jenar.

Latar Belakang Gerakan Syekh Siti Jenar

Tulisan tentang Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya bersumber pada satu
tulisan saja, yang mula-mula tanpa pengarang. Tulisan yang ada
pengarangnya juga ada, misalnya Serat Sastro Gendhing oleh Sultan
Agung. Buku berjudul Ajaran Syekh Siti Jenar karya Raden Sosrowardojo
yang menjadi buku induk karya Dr Abdul Munir Mulkhan itu sebenarnya
merupakan gubahan atau tulisan ulang dari buku dengan judul yang sama
karya Ki Panji Notoroto. Nama Panji Notoroto adalah samaran mantan
Adipati Mataram penganut berat ajaran Syekh Siti Jenar. Ki Panji
Notoro memberi informasi menarik, bahwa rekan-rekan Adipati
seangkatannya ternyata tidak ada yang dapat membaca dan menulis. Ini
menunjukkan bahwa setelah era Demak Bintoro, nampaknya pendidikan
klasikal di masyarakat tidak berkembang sama sekali.

Memahami Al Qur'an dan Hadits tidak mungkin kalau tidak disadari
dengan ilmu. Penafsiran Al Qur'an tanpa ilmu akan menghasilkan
hukum-hukum yang sesat belaka. Itulah nampaknya yang terjadi pada era
pasca Demak, yang kebetulan sejak Sultan Hadiwidjojo agama yang dianut
kerajaan adalah agama manunggaling kawulo Gusti. Di samping masalah
pendidikan, sejak masuknya agama Hindu di Jawa ternyata pertentangan
antar agama tidak pernah reda. Hal ini dengan jelas ditulis di dalam
Babad Demak. Karena pertentangan antar agama itulah Mataram Hindu
runtuh (telah diterangkan sebelumnya). Sampai dengan era Singasari,
masih ada tiga agama besar di Jawa yaitu Hindu, Budha dan Animisme
yang juga sering disebut Agama Jawa. Untuk mencoba meredam
pertentangan agama itu, Prabu Kertonegoro, raja besar dan terakhir
Singasari, mencoba untuk menyatukannya dengan membuat agama baru
disebut agama Syiwa-Boja. Syiwa mewakili agama Hindu, Bo singkat Buda
dan Ja mewakili agama Jawa.

Nampaknya sintesa itulah yang, ditiru oleh politik besar di Indonesa
akhir decade 1950-an dulu, Nasakom. Dengan munculnya Islam sebagai
agama mayoritas baru, banyak pengikut agama Hindu, Budha dan Animisme
yang melakukan perlawanan secara tidak terang-terangan. Mereka lalu
membuat berbagai cerita, misalnya Gatholoco, Darmogandhul, Wali Wolu
Wolak-walik, Syekh Bela Belu, dan yang paling terkenal Syekh Siti
Jenar. Untuk yang terakhir itu kebetulan dapat di-dhompleng-kan kepada
salah satu anggota Walisongo yang terkenal, yaitu Sunan Kalijogo
seperti telah disebutkan di muka.

Jadi Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya sebuah gerakan anti reformasi,
anti perubahan dari Hindu-Budha-Jawa ke Islam. Oleh karena itu isi
gerakan itu selalu sinis terhadap ajaran Islam, dan hanya diambil
potongan-potongannya yang secara sepintas nampak tidak masuk akal.
Potongan- potongan ini banyak sekali disitir oleh Dr Abdul Munir
Mulkhan tanpa telaah yang didasarkan pada dua hal, yaltu logika dan
aqidah.

Pernyataan-pernyataan

Masalah pernyataan yang dibuat oleh penulis buku ini telah saya
singgung di muka. Banyak sekali pernyataan yang saya sebagai muslim
ngeri membacanya, karena buku ini ditulis juga oleh seorang muslim,
malah Ketua sebuah organisasi Islam besar. Misalnya pernyataan yang
menyebutkan: "ngurusi" Tuhan, semakin dekat dengan Tuhan semakin tidak
manusiawi, kelompok syariah yang dibenturkan dengan kelompok sufi,
orang beragama yang mengutamakan formalitas, dan sebagainya.

Setahu saya dulu pernyataan seperti itu memang banyak diucapkan oleh
orang-orang dari gerakan anti Islam, termasuk orang-orang dari Partai
Komunis Indonesia yang pemah menggelar kethoprak dengan lakon "Patine
Gusti Allah" (matinya Allah,red) di daerah Magelang tahun 1965-an
awal. Bahkan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa syahadat, sholat,
puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji itu tidak perlu. Yang
penting berbuat baik untuk kemanusiaan.

Ini jelas pendapat para penganut agama Jawa yang sedih karena
pengaruhnya terdesak oleh Islam. Rosululloh juga tidak mengajarkan
pelaksanaan ibadah hanya secara formalistik, secara ritual saja.
Dengan Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk berbuat baik, karena
kehidupan muslimin harus memenuhi dua aspek, yaitu hablum minannaas wa
hablum minalloh.

Di dalam buku, seperti saya sebutkan, hendaknya pernyataan disusun
sedemikian rupa untuk membangun sebuah misi atau pengertian. Apa
sebenarnya misi yang akan dilakukan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan dengan
menulir buku Syekh Siti Jenar itu. Buku ini juga dengan jelas
menyiratkan kepada pembaca
bahwa mempelajari ajaran Syekh Siti Jenar itu lebih balk dibanding
dengan mempelajari fikih atau syariat. Islam tidak mengkotak-kotakkan
antara fikih, sufi dan sebagainya. Islam adalah satu, yang karena
begitu kompleksnya maka orang harus belajar secara bertahap. Belajar
syariah merupakan tahap awal untuk mengenal Islam.

Penulis juga membuat pernyataan tentang mengkaji Al Qur'an. Bukan
hanya orang Islam dan orang yang tahun bahasa Arab saja yang boleh
belajar Qur'an. Di sini nampaknya penulis lupa bahwa untuk belajar Al
Qur'an ada, dua syarat yang harus dipenuhl, yaitu muttaqien (Al
Baqoroh ayat 2) dan tahu penjelasannya, yang sebagian telah
dicontohkan oleh Muhammad Saw. Jadi sebenamya boleh saja siapapun
mengkaji Al Qur'an, tetapi tentu tidak boleh semaunya sendiri, tanpa
melewati dua rambu penting itu. Oleh karena itu saya mengajak kepada
siapapun, apalagi yang beragama Islam, untuk belaiar Al Qur'an yang
memenuhi kedua syarat itu, misalnya kepada Ustadz Umar Budiargo,
ustadz Mustafa Ismail, dan banyak lagi, khususnya alumni universitas
Timur Tengah. Jangan belajar Al Qur'an dari pengikut ajaran Syekh Siti
Jenar karena pasti akan tersesat sebab Syekh Siti Jenar adalah gerakan
untuk melawan Islam.

Catatan Kecil

Untuk mengakhiri tanggapan saya, saya sampaikan beberapa catatan kecil
pada buku Syekh Siti Jenar karya Dr Abdul Munis Mulkhan ini :

1. Banyak kalimat yang tidak sempurna, tidak mempunyai subyek
misalnya. Juga banyak kalimat yang didahului denga kata sambung.

2. Banyak pernyataan yang terlalu sering diulang-ulang sehingga
terkesan mengacaukan sistematika penulisan.

3. Bab Satu diakhir dengan Daftar Kepustakaan, Bab lain tidak, dan
buku ini ditutup dengan Sumber Pustaka. Yang yang tercantum didalam
Daftar kepustakaan Bab Satu hampir sama dengan yang tercantum dalam
Sumber Pustaka.

4. Cara mensitir penulis tidak konsisten, contoh dapat dilihat pada
halaman II yang menyebut: ...... sejarah Islam (Madjld, Khazanah,
1984), dan di alinea berikutnya tertulis:....... Menurut Nurcholish
Madjld (Khazanas, 1984, hlm 33).

5. Bab Keempat, seperti diakui oleh penulis, merupakan terjemahan buka
karya Raden Sosrowardoyo yang pemah ditulis di dalam buku dengan judul
hampir sama oleh penulis. Di dalam buku ini bab tersebut mengambil
hampir separoh buku (halaman 179-310). Karena pemah ditulis, sebenamya
di sini tidak perlu ditulis lagi melainkan cukup mensitir saja.
Beberapa catatan ini memang kecil, tetapi patut disayangkan untuk
sebuah karya dari seorang pemegang gelar akademik tertinggi, Doktor.

Demikianlah tanggapan saya, kurang lebihnya mohon dima'afkan. Semoga
yang saya lakukan berguna untuk berwasiat-wasitan (saling
menasehati,red) didalam kebenaran sesuai dengan amanat Alloh Swt di
dalam surat Al-'Ashr

Amien.

Wassalaamu 'alaikum warokhwatulloohi wabarokaatuh.
Yogyakarta, 24 Juli 2001

source: http://www.mail-archive.com/fossei@yahoogroups.com/msg00035.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar