Cari Ilmu Yuuck...

Memuat...

Rabu, 14 April 2010

Tasawuf dan Wali

Buletin Islam AL ILMU Jember Edisi :51 /IV/II/ 1426 Mengangkat tema tasawuf dan kaum Sufi terasa hampa dan kosong tanpa mencuatkan pemikiran mereka tentang wali dan demikian juga karamah. Pasalnya mitos ataupun legenda lawas tentang wali dan karamah ini telah menjadi senjata andalan mereka didalam mengelabui kaum muslimin. Sehingga dalam gambaran kebanyakan orang wali Allah adl tiap orang yang bisa mengeluarkan keanehan dan mempertontonkannya sesuai permintaan. Selain itu dia juga termasuk orang yg suka mengerjakan shalat lima waktu atau terlihat memiliki ilmu agama.

Bagi siapa yg memililki ciri-ciri tersebut maka akan mudah baginya utk menyandang gelar wali Allah sekalipun dia melakukan kesyirikan dan kebid’ahan.WALI MENURUT AL QUR’AN DAN AS SUNNAH. Adalah perkara yg lumrah bila kita mendengar kata-kata wali Allah. Di sisi lain terkadang menjadi suatu yg asing bila disebut kata wali setan. Itulah yg sering kita jumpai di antara kaum muslimin. Bahkan sering menjadi sesuatu yg aneh bagi mereka kalau mendengar kata wali setan. Fakta ini menggambarkan betapa jauhnya persepi saudara kita kaum muslimin dari pemahaman yg benar tentang hakikat wali Allah dan lawannya wali setan. Padahal Allah telah menetapkan bahwa wali itu ada dua jenis yaitu:-wali Allah-wali setanAllah berfirman : “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yg beriman dan bertakwa.” Dia berfirman tentang wali setan : “Sesungguhnya Mereka tidak lain adl setan yg menakut-nakuti wali-walinya krn itu janganlah kalian takut kepada mereka jika kalian benar-benar orang yg beriman.” Dari kedua ayat ini jelaslah bahwa wali Allah itu adl siapa saja yg beriman dan bertakwa kepada Allah dgn sebenar-benarnya. Sedangkan wali setan itu adl lawan dari mereka.Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Wali-wali Allah adl mereka yg beriman dan bertakwa sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah tentang mereka sehingga tiap orang yang bertakwa adl wali-Nya.” . Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Wali Allah adl orang yg berilmu tentang Allah dan dia terus-menerus diatas ketaatan kepada-Nya dgn penuh keikhlasan.” .Didalam ayat yg lainnya Allah menyatakan bahwa wali Allah itu tidak mesti ma’shum . Dia berfirman : “Dan orang yg membawa kebenaran dan membenarkannya maka mereka itulah orang-orang yg bertakwa. Mereka memperoleh apa yg mereka kehendaki disisi Rabb mereka. Itulah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Agar Allah akan mengampuni bagi mereka perbuatan paling buruk yg mereka kerjakan kemudian membalas mereka dgn ganjaran yg lbh baik dari apa yg telah mereka kerjakan.” KARAMAH MENURUT AL QUR’AN DAN AS SUNNAHDemikian juga halnya Allah dan Rasul-Nya menerangkan bahwa karamah itu memang ada pada sebagian manusia yg bertakwa baik dimasa dahulu maupun dimasa yg akan datang sampai hari kiamat. Diantaranya apa yg Allah kisahkan tentang Maryam didalam surat Ali Imran: 37 ataupun Ashhabul Kahfi dalam surat Al Kahfi dan kisah pemuda mukmin yg dibunuh Dajjal di akhir jaman . Selain itu kenyataan yg kita lihat ataupun dengar dari berita yg mutawaatir bahwa karamah itu memang terjadi di jaman kita ini.Adapun definisi karamah itu sendiri adalah: kejadian diluar kebiasaan yg Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan sebagai seorang nabi tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa bacaan ataupun dzikir khusus yg terjadi pada seorang hamba yg shalih baik dia mengetahui terjadinya ataupun tidak dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. {Syarhu Ushulil I’tiqad 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin}APAKAH WALI ALLAH ITU MEMILIKI ATRIBUT-ATRIBUT TERTENTU?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa wali-wali Allah itu tidak memiliki sesuatu yg membedakan mereka dgn manusia lainnya dari perkara-perkara dhahir yg hukumnya mubah seperti pakaian potongan rambut atau kuku. Dan merekapun terkadang dijumpai sebagai ahli Al Qur’an ilmu agama jihad pedagang pengrajin atau para petani.

APAKAH WALI ALLAH ITU HARUS MEMILIKI KARAMAH? LEBIH UTAMA MANAKAH ANTARA WALI YANG MEMILIKINYA DENGAN YANG TIDAK?Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa tidak tiap wali itu harus memiliki karamah. Bahkan wali Allah yg tidak memiliki karamah bisa jadi lbh utama daripada yg memilikinya. Oleh krn itu karamah yg terjadi di kalangan para tabi’in itu lbh banyak daripada di kalangan para sahabat padahal para sahabat lbh tinggi derajatnya daripada para tabi’in. APAKAH SETIAP YANG DILUAR KEBIASAAN DINAMAKAN DENGAN ‘KARAMAH’?Asy Syaikh Abdul Aziz bin Nashir Ar Rasyid rahimahullah memberi kesimpulan bahwa sesuatu yang diluar kebiasaan itu ada tiga macam:-Mu’jizat yg terjadi pada para rasul dan nabi-Karamah yg terjadi pada para wali Allah-Tipuan setan yg terjadi pada wali-wali setan.Sedangkan utk mengetahui apakah itu karamah atau tipu daya setan tentu saja dgn kita mengenal sejauh mana keimanan dan ketakwaan pada masing-masing orang yg mendapatkannya tersebut. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjalan diatas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah .” WALI DAN KARAMAH MENURUT KAUM SUFIPandangan kaum Sufi tentang wali dan karamah sangatlah rancu bahkan menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Diantara pandangan mereka adl sebagai berikut:1. Wali Adalah Gambaran Tentang Sosok Yang Telah Menyatu Dan Melebur Diri Dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Hal ini sebagaimana yg dinyatakan oleh Al Manuufi dalam kitabnya Jamharatul ‘Auliya’ 1/98-99 2. Gelar wali merupakan pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yg bisa diraih tanpa melakukan amalan dan bisa diraih oleh seorang yg baik atau pelaku kemaksiatan sekalipun. 3. Wali Memiliki Kekhususan Melebihi Kekhususan Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam.Diantara kekhususan tersebut adalah:a. Mengetahui apa yg ada di hati manusia sebagaimana ucapan An-Nabhani tentang Muhammad Saifuddin Al Farutsi An Naqsyabandi.b. Mampu menolak malaikat maut yg hendak mencabut nyawa atau mengembalikan nyawa seseorang. Hal ini diterangkan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani.c. Mampu berjalan di atas air dan terbang di udara. An Nabhani menceritakan hal itu tentang diri Muhammad As Sarwi yg dikenal dgn Ibnu Abil Hamaa’il.d. Dapat menunaikan shalat lima waktu di Makkah padahal mereka ada di negeri yg sangat jauh. An Nabhani membela perbuatan wali-wali mereka tersebut.e. Memiliki kesanggupan utk memberi janin pada seorang ibu walaupun tidak ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sekali lagi kedustaan Muhammad Shadiq Al Qaadiri tentang Asy Syaikh Abdul Qadir Al Jailani.Dan masih ada lagi keanehan-keanehan yg ada pada tokoh-tokoh atau wali-wali mereka.

Subhanallah semua itu adl kedustaan yg nyata! Sebelumnya Ibnu Arabi menyatakan kalau kedudukan wali itu lbh tinggi dari pada nabi. Didalam sebuah syairnya dia mengatakan:Kedudukan puncak kenabian berada pada suatu tingkatanSedikit dibawah wali dan diatas rasulDemikian juga Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kami telah mendalami suatu lautan yg para nabi hanya mampu di tepi-tepinya saja.” 4. Seorang Wali Tidak Terikat Dengan Syariat IslamAsy Sya’rani menyatakan bahwa Ad Dabbagh pernah berkata: “Pada salah satu tingkatan kewalian dapat dibayangkan seorang wali duduk bersama orang-orang yg sedang minum khamr dan dia ikut juga minum bersama mereka. Orang-orang pasti menyangka ia seorang peminum khamr namun sebenarnya ruhnya telah berubah bentuk dan menjelma seperti yg terlihat tersebut. 5. Seorang Wali Harus Ma’shum Ibnu Arabi berkata: “Salah satu syarat menjadi imam kebatinan adl harus ma’shum. Adapun imam dhahir tidak bisa mencapai derajat kema’shuman.” {Al Futuuhaat Al Makkiyah 3/183}6. Seorang Wali Harus Ditaati Secara MutlakAl Ghazali berkata: “Apapun yg telah diinstruksikan syaikhnya dalam proses belajar mengajar maka hendaklah dia mengikutinya dan membuang pendapat pribadinya. Karena kesalahan syaikhnya itu lbh baik daripada kebenaran yg ada pada dirinya.” 7. Perbuatan Maksiat Seorang Wali Dianggap Sebagai KaramahDalam menceritakan karamah Ali Wahisyi Asy Sya’rany berkata: “Syaikh kami itu bila sedang mengunjungi kami dia tinggal di rumah seorang wanita tuna susila/pelacur.” {Ath Thabaqaatul Kubra 2/135}8. Karamah Menjadikan Seorang Wali Memiliki Kema’shumanAl Qusyairi berkata: “Salah satu fungsi karamah yg dimiliki oleh para wali agar selalu mendapat taufiq utk berbuat taat dan ma’shum dari maksiat dan penyelisihan syari’at.” {Ar Risalah Al Qusyairiyah hal.150}Para pembaca dari bahasan diatas akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwasanya pengertian wali menurut kaum sufi sangatlah rancu dan menyimpang krn dgn pengertian sufi tersebut siapa saja bisa menjadi wali walaupun ia pelaku kesyirikan bid’ah atau kemaksiatan. Ini jelas-jelas bertentangan dgn Al Qur’an As Sunnah dan fitrah yg suci.Wallahu a’lam bishshawaab.HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU YANG TERSEBAR DIKALANGAN UMATHadits Ubadah bin Shamit :الأَبْدَالُ في هَذِهِ الأُمَّةِ ثَلاَثُوْنَ …“Wali Al Abdaal di umat ini ada 30 orang…”Keterangan:Asy Syaikh Al Albani rahimahullah banyak membawakan hadits tentang wali Al Abdaal didalam Silsilah Adh Dha’ifah hadits no. 936 1392 1474 1475 1476 1477 1478 1479 2993 4341 4779 dan 5248.Beliau mengatakan bahwa seluruh hadits tentang wali Al Abdaal adl lemah tidak ada satupun yang shahih.

sumber : file chm Darus Salaf 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar