Cari Ilmu Yuuck...

Memuat...

Kamis, 28 Januari 2010

BAGAI KACANG LUPA KULITNYA TERNYATA ADA…….

Pepatah yang mengatakan “Bagai kacang yang lupa kulitnya” adalah sebuah ungkapan tentang perbuatan atau sikap seseorang yang terlalu sombong sehingga melupakan asal usulnya atau lata belakangnya.Kalo Asal ga boleh Usul, kalo Usul ga boleh Asal-asalan……..

 

He…he…itu sih ga nyambung yah…… kembali ke soal Kacang yang lupa ama kulitnya………

 

Peribahasa ini memang ternyata berlaku juga dalam kehidupan sehari-hari kita.

 

Banyak orang yang sudah melupakan asal usulnya karena keberhasilan mereka saat ini.

 

Contoh yang mudah diingat di negeri ini adalah para pelaku politisi negeri kita. Mereka diawalnya selalu menjanjikan sesuatu, tetapi setelah berhasil, mereka terkadang lupa dengan janji-janjinya.

 

Tapi ini lain masalahnya, ada juga orang yang melupakan jatidiri sebenarnya, karena mungkin aslinya mereka berasal dari kalangan keluarga tidak mampu.

 

Contoh yang terakhir ini banyak terdapat disekitar kita. Banyak orang yang melupakan siapa dia sebenarnya, berasal dari mana dia sebenarnya, sehingga mereka tidak lagi hormat dan respeck terhadap keberadaan orang yg pernah berjasa baginya., meski sbnrnya mereka tdk berharap apa2 dr keberhasilan kita!!

 

"Katakanlah (Hai Muhammad kepada orang-orang musyrik): "Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan" Maka mereka menjawab:"Allah". Maka katakanlah:"Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" [Yunus/10:31].

 

 

Nama di kampungnya Siti, tapi setelah merantau ke kota dan berhasil, langsung ganti nama jadi Novi, dan mulai melupakan asalnya. Atau paling tidak menutup-nutupi jatidiri sebenarnya, karena takut ketahuan oleh orang lain.

 

Ada juga orang yang karena pertemanan, kemudian diajak untuk bekerja, dan menimba ilmu sama-sama dalam pekerjaan, sehingga akhirnya dia memiliki kemampuan dan ketrampilan yang berlebih.

 

Akhirnya dia menjadi orang yang sukses dan berhasil dalam kariernya, tapi mulai melupakan siapa yang pertama kali mengajak dia untuk bekerja. Kalo saja dulu dia tidak diajak bekerja oleh temannya, mungkin saat ini hidupnya masih saja miskin.

 

Itulah, bagai kacang lupa kulitnya……

 

Jadi memang benar pepatah tersebut adalah nyata ada dalam kehidupan kita sehari-hari bahkan berada di sekitar kita didalam lingkungan kita sendiri.

 

Pernahkah anda melihat orang seperti itu di lingkungan anda? Atau anda anggap seseoarang telah sesuai dengan kriteria pepatah tersebut?

 

Bagai Kacang Lupa Kulitnya……….

 

Saat ini sudah semakin jarang orang berprilaku seperti ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk.

 

Semakin berilmu, justru seharusnya membuat orang itu semakin mengenal lingkungannya tempat dia berada, dan semakin mengenal juga siapa dia sebenarnya.

 

Inilah yang seharusnya kita instrospeksi diri terhadap kita sendiri, benarkah kita sudah melupakan asal usul kita, siapa kita sebenarnya, dari mana kita berasal.

 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

 

“Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR. Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya)

 

Walalu bagaimanapun juga, seberapa hebatnya kita saat ini, seberapa suksesnya kita saat ini, dan seberapa kayanya kita saat ini, semua itu tidak akan mungkin terjadi tanpa ada yang melakukan sebelumnya dan campur tangan Allah

 

Pastinya adalah orang tua kita sesepuh keluarga kita, tempat dimana kita dilahirkan, sahabat-sahabat masa kecil kita yang dulunya tanpa kita sadari telah membuat kita seperti saat ini.

 

Jadi dengan kita selalu bersyukur atas apa yang telah kita peroleh saat ini dan apa yang telah membuat ini semua terjadi, maka diharapkan kita akan selalu mengingat siapa kita sebenarnya, dari mana kita sebenarnya.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar