Cari Ilmu Yuuck...

Memuat...

Kamis, 28 Januari 2010

DEMOCRAZY

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan tayangan DemoCrazy di MetroTV. Sebuah acara parodi terhadap lembaga legislatif. MetroTV memlesetkan istilah Demokrasi yang sepertinya tidak sesuai dengan realita dilapangan.

 

Sebenarnya istilah democrazy sudah muncul sejak lama dari Barat. Bahkan istilah ini digunakan dalam sebuah album musik yang dikeluarkan oleh Damon Albarn di Inggris sejak tahun 2003.

 

Dampak dari demokrasi tentu saja adalah Demonstrasi (Demonstration) yang berasal dari bahasa latin yaitu demonstrationem yang berarti mempertunjukkan (show).

 

Dalam bahasa Indonesia lebih kita lebih sering menyebutnya demo, merupakan singkatan dari demonstrasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia demonstrasi adalah pernyataan protes yang dikemukakan secara massal atau unjuk rasa.

 

Namun seiring perkembangannya, demonstrasi bukan cuma pernyataan protes. Lebih dari itu tampaknya demonstrasi bisa dikatakan luapan emosi atas ketidakpuasan dengan sesuatu, dan sering kali berakhir ricuh. Jadi pantas kiranya jika diplesetkan menjadi DemonStressy.

 

 

Berasal dari dua suku kata yaitu :

 

Demon : Setan

 

Stress : Tegang

 

Karena para pendemo kebanyakan sudah menjadi “setan” yang membuat menjadi tegang. Bukan cuma di Indonesia, namun juga diluar negeri tidak sedikit demonstrasi yang berakhir kericuhan. Oleh sebab itu tak heran jika Orde Baru melarangnya, dan itu tidak hanya dilakukan Indonesia, pemerintahan Togo pun dulu melakukan hal yang sama.

 

Demonstrasi sering berakhir dengan kericuhan, perusakan, dan kekerasan. Selain itu demonstrasi juga menyisakan dampak negatif pada masyarakat sekitar.

 

Miris rasanya akhir-akhir ini melihat

“MAHA“siswa berdemo merusak kampusnya sendiri

Pendukung Cagub, Camat, dll merusak kantor pemerintahan yang dibangun dengan uang mereka sendiri

Pegawai yang merusak fasilitas kantor mereka sendiri

dan masih banyak lagi.

 

Sungguh merupakan emosi sesaat yang dipengaruhi oleh DEMON (SETAN).

DemonsTragedy

 

Dan karena seringkali menimbulkan kerusakan, sepertinya pantas pula diplesetkan menjadi DemonsTragic. “Setan-Setan” yang membuat Tragedi.

 

1. Macet : Tumpahnya manusia ke jalan protokol, tak anyal membuat kendaraan melaju sangat lambat, sehingga minimal menimbulkan kemacetan lalu lintas.

 

2. Tidak Murni : Menurut beberapa pihak yang dilansir JawaPos (22/4 08), Demonstrasi murni saat ini tinggal 10%. Sebab jarang ada massa politik yang secara suka rela ikut berdemo untuk mendukung parpol atau calon kepala daerah. Biasanya tiap massa demonstran Rp35 ribu – Rp50 ribu. Ini untuk demo yang diperkirakan tiga hingga lima jam. Bahkan sekarang nilai rata-rata pemasarannya Rp 50 ribu. Bahkan untuk korlap (koordinator lapangan), koordinator korlap, dan simpul, tarifnya lain. Korlap biasanya mendapatkan jatah Rp 250 ribu dan orator Rp 300 ribu. Sedangkan koordinator korlap dan simpul tarifnya mencapai Rp 1,5 juta dan Rp 2 juta.

 

3. Polusi : Bumi ini sudah semakin panas, dan es di Kutup sudah mulai mencair, sehingga menyebabkan perubahan musim yang tak tentu, banjir, dll. Tapi egoisme Demonstran mengalahkan itu semua. Dengan berdalih untuk memanaskan suasana, para demonstran membakar ban bekas, dan tentu saja ini menambah deretan penyebab rusaknya lingkungan kita. Sungguh sangat besar efeknya bagi kesehatan dan lingkungan. Inikah yang dinamakan “MAHA”??? siswa? Mahasiswa seharusnya lebih tau akan bahaya yang disebabkan oleh ban bekas yang terbakar.

 

4. Merusak Fasilitas Umum : Tak puas membakar ban, para demonstran membakar fasilitas umum. Yang notabene berasal dari uang mereka sendiri.

 

5. Menganggu Ketertiban Umum : Pada beberapa demonstrasi, seperti ketika sebagian rakyat menentang kenaikan harga BBM, ada yang menyegel POM Bensin, “menyandera” truk tangki, dll. Bukankah masih banyak cara lain yang lebih pantas agar tidak menganggu mata pencarian seseorang?

 

6. Menyebarkan Aib : Sudah barang tentu Demonstrasi pasti akan menjelek2kan pihak tertuduh. Padahal belum tentu pihak tertuduh melakukan kesalahan itu.

Demonstrasi Menurut Pandangan Islam

 

Menasehati pemerintah menurut Islam adalah seperti yang dicontohkan Rasulullah, yaitu dengan jalan sembunyi-sembunyi.

Jangan Terang-Terangan

 

“Barang siapa yang ingin menasihati seorang penguasa, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya, dan berduan dengannya. Jika ia terima, maka itulah (yang diharap). Jika tidak, maka ia telah melaksanakan keawjiban atas dirinya ”.[HR.Ibnu Abi Ashim (1096). Syaikh Al-Albany -rahimahullah- berkata dalam Zhilal Al-Jannah (hal.514), “Sanadnya shohih”] .

 

Fauzy bin Abdillah Al-Atsary -hafizhahullah- berkata, ”Hadits ini menunjukkan bahwa nasihat kepada pemerintah dengan cara rahasia, bukan dengan cara terang-terangan, dan bukan pula membeberkan aibnya di atas mimbar-mimbar, pesta-pesta, masjid-masjid, koran-koran, majalah dan lainnya sebagai suatu nasihat”. [Al-Ward Al-Maqthuf (hal.66)]

 

Umat muslim seharusnya paham akan hal ini. Dengan mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seperti dalam firman Allah “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahanam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115)

Jangan Merusak

 

Jika ada duri, paku, atau benda-benda lainnya yang mengganggu bahkan membahayakan pengguna jalan umat muslim diperintahkan untuk menyingkirkannya. Seperti yang tertuang pada hadis Bukhari dan Muslim.

 

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang, cabang yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang iman.”

[HR. Al-Bukhari (no. 9) dan Muslim (no. 35). Lafazh ini milik Muslim dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

 

Namun yang dilakukan oleh para demonstran justru kebalikannya. Mereka membakar ban bekas di tengah jalan yang selain merusak kesehatan, lingkungan, juga berbahaya bagi pengguna jalan yang lewat. Tak puas dengan itu, ada pula yang menebang pohon, memblokade jalan sehingga menyengsarakan masyarakat yang tidak bersalah.

Jangan Mempermainkan Sholat

 

Untuk menghidupkan suasana, tak jarang pendemo membawa keranda mayat. Dan bukan cuma itu, bahkan mereka melakukan sholat Jenazah. Padahal orang yang di”sholat” jenazahi masih hidup.

 

Sungguh ini sudah mempermainkan masalah agama. Sholat hanya untuk main-mainan atau pura-pura. Pernahkan Rasulullah mengajarkan hal ini?

 

Jika ada yg melakukan pembelaan dengan berkata “Kan gak ada yg melarang”. Prinsip dalam Islam sangat gampang dimengerti. “Semua Ibadah itu pada dasarnya Haram, kecuali yang diperintahkan. Semua Makanan itu halal, kecuali yang dilarang”. Memang Sholat jenazah itu diperintahkan, tapi tidak mengikuti tuntunan tata-cara sholat jenazah yang benar.

Nasihat Para Ulama

 

Syeikh Al-Albany ditanya tentang hukum demonstrasi yang banyak dilakukan oleh pemuda-pemudi. Maka beliau menjawab dengan jawaban yang panjang yang pada akhirnya beliau simpulkan dengan perkataan berikut ini: “Karena itu saya nyatakan dengan ringkas tentang demonstrasi-demonstrasi yang terjadi pada sebagian negara Islam (bahwa) perkara ini pada dasarnya adalah telah keluar dari jalannya kaum muslimin dan telah menyerupai orang-orang kafir dan (Allah) Robbul ‘Alamin telah berfirman : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu`min, maka Kami biarkan ia larut terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.”

 

Fatwa Syeikh Sholeh Bin ‘Abdurrahman Al-Athram ’afahullah ketika ditanya masalah demonstrasi, beliau menjawab “Tidak, itu merupakan wasilah syaithon”

 

Fatwa Syeikh Sholeh Bin Fauzan Al-Fauzan hafizhohullahu, ketika ditanya apakah demonstrasi termasuk jihad fiisabilillah, beliau menjawab : “Demonstrasi itu tidak ada faidah didalamnya, itu adalah kekacauan, itu adalah kekacauan dan apa mudharatnya bagi musuh kalau manusia melakukan demonstrasi di jalan-jalan dan (berteriak-teriak) mengangkat suara ? bahkan perbuatan ini menyebabkan musuh senang seraya berkata sesungguhnya mereka telah merasa mendapatkan kejelakan dan meresa mendapatkan mudharat dan musuh gembira dengan ini. Islam adalah agama sakinah (ketenangan), agama hudu` (ketentraman), dan agama ilmu bukan agama kekacauan dan hiruk pikuk, sesungguhnya dia adalah agama yang menghendaki sakinah dan hudu` dengan beramal dengan amalan-amalan yang mulia lagi majdy (tinggi,bermanfaat) dengan bentuk menolong kaum muslimin dan mendo’akan mereka,…”

 

“Jadi, cara yang benar adalah dengan menziarahi (pemerintah), menyuratinya dengan cara yang bagus. Nasihatilah para pemimpin, pemerintah, dan kepala suku dengan metode seperti ini. Bukan dengan cara kekerasan dan demonstrasi.” Kata Syeikh Abdul Aziz ibn Baz (Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, edisi ke-38, hal.310)

 

Ziarah yang dimaksud oleh Syeikh bin baz adalah berkunjung. Ziarah bukan hanya untuk kuburan. Empat ulama diatas tampaknya sudah cukup dalam penjelasan Demonstrasi. Namun bukan berarti hanya ada empat ulama saja yang mengeluarkan fatwa seperti itu. Ada banyak sekali, dan bahkan ada banyak sekali yang komentarnya lebih keras dari yang telah saya tulis diatas.

Islam Mengajarkan Kedamaian Bukan Kekerasan

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl : 125).

 

Dan tatkala (Allah) ‘Azza wa Jalla mengutus Musa dan Harun kepada Fir’aun, Allah berfirman :

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thoha : 44).

 

 

 

Penulis : Agam Rosyidi

 

URL : http://rosyidi.com/demonstressy/

 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar