Cari Ilmu Yuuck...

Memuat...

Kamis, 28 Januari 2010

Menyoal Bermaaf-Maafan & SMS-anSertaZiarah Kubur Sebelum Ramadhan

Bismillah,

Rekan2 fillah, seperti yang sudah biasa kita saksikan dimana-mana, bahwa menjelang bulan Ramadhan, kuburan dimana2 penuh orang, jalanan disekitar kuburan macet karena penuhnya orang2 yang berziarah. Juga kita lihat dijaman sekarang, saling sms untuk saling bermaaf2an. Atau bersilaturahmi diantara mereka.

 

Biasanya mereka yang melakukan hal2 tersebut diatas, selain karena sudah terbiasa dengan perkara adat/urf, namun ternyata sebagian diantara mereka mendasarkan perbuatannya pada hadits Maudhu'/palsu ini :

 

"Ketika Rasullullah sedang berhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Aamin sampai tiga kali.

Ketika selesai sholat Jum'at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: "Ketika aku sedang berhotbah, datanglah Malaikat Zibril dan berbisik, hai Rasullullah aamin-kan do'a ku ini,"

jawab Rasullullah Do'a Malaikat Zibril itu adalah sbb:

"Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri;

Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Aamin sebanyak 3 kali".

 

Maka lafazh hadits seperti tersebut di atas tidak terdapat dalam kitab2 hadits para ulama hadits. Hadits diatas adalah Maudlu/Palsu, dan hadits ini tidak ada asal usulnya.

 

Memang dari Ramadhan ke Ramadhan masalah ini sering sekali ditanyakan, dan hadits yang ditanyakan, bisa didapatkan dalam kitab "Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang ditulis oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid." Namun setelah diperhatikan dan di perbandingkan dengan hadits palsu diatas, ternyata redaksi lafazh dan maksudnya jauh berbeda.

 

Adapun Hadits yang derajatnya Shahih dan semakna dengan riwayat al-Bazzar juga diriwayatkan oleh ulama ahlus Sunnan yang lain.

 

Dan untuk lebih jelasnya, makna hadits shahih tersebut adalah sebagai berikut:

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin" Ditanyakan kepadanya : "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?" Beliau bersabda. "Sesungguhnya Jibril 'Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan "Amin", maka akupun mengucapkan Amin...."

 

Hadits tersebut di atas diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin. [Disalin dari Sifat Puasa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, hal. 27-28, Pustaka Al-Haura.]

 

Yang lebih lengkap lagi dari lafadz hadts shahih tersebut sebagaimana yg termaktub dalam kitab,"Birrul Walidain" oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam.

 

"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Amin, amin, amin".

Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata 'Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?"

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin', kemudian Jibril berkata lagi,

'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!', maka aku berkata : 'Amin'. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata lagi. 'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin".

[Hadits SHAHIH Riwayat Bazzar dalam Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah,diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)]

 

Dengan demikian, hadist shahih diatas tidak ada hubungan dengan keharusan bermaafan sebelum puasa Ramadhan.

 

Memaafkan merupakan ciri utama orang beriman yang sedang menuju taqwa. Meminta maaf adalah perilaku terbaik seseorang yang pernah bersalah untuk menuju taubatan nasuha. Meminta maaf dan memaafkan seseorang dapat dilakukan kapan saja, dan tidak ada tuntunan syari'at harus dikumpulkan dulu dan menunggu sampai menjelang bulan Ramadhan. Akan tetapi mengambil momen suatu waktu untuk bermaafan, maka ini diperbolehkan. Demikiain pula jika ini hanya berkenaan dengan masalah adat semata, tidak dikaitkan keyakinan2 tertentu atau tidak di maksudkan untuk mengamalkan hadits palsu diatas, maka hal ini dibolehkan (perkataan Syaikh Utsaimin rahimahullah) , karena boleh jadi, itulah waktu terbaik/tercepat bagi kita sekarang sebelum mati menjemput.

 

Tentunya dengan tulus ikhlas, tidak hanya sekedar basa-basi, seremonial atau gengsi saja. Marilah gunakan waktu hidup yang pendek ini dengan sebaik-baiknya.

Utk lebih lengkapnya silahkan merujuk kpd kitab-kitab yang telah di terjemahkan ke bahasa Indonesia yg dimaksud diatas.

 

Demikian, semoga bermanfa'at. kurang lebihnya mohon ma'af. Wallaahu a'lamu bish shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar